Amazing Al Qur’an dalam Pembelajaran Tematik

Salam Semangat!

Sahabat guru, pernah bingung menyiapkan materi pembelajaran di kelas? Saya pernah, hehe sering malah , Seperti bulan lalu saya sedang dikejar deadline menulis buku tematik. Saya merasa buntu merumuskan pembelajaran tematik dengan materi puisi, bagian-bagian tubuh hewan dan fungsinya, serta kegiatan ekonomi. Hingga akhirnya Allah menggerakkan jari saya untuk membuka Al Qur’an hingga sampailah saya pada ayat berikut.

“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.”

(al-Hajj: 73)

Dari ayat tersebut  terbersitlah sebuah ide untuk  menulis puisi dan sebuah teks mengenai  insekta yang disebut dalam Al Qur’an.  Continue reading

Advertisements

Belajar dari Ibu dan Sajak Palsu

Salam semangat!

Sahabat guru,

Salah satu orang yang sangat berpengaruh dalam hidup saya adalah ibu (biasanya saya memanggilnya dengan sebutan umi). Beliau adalah salah satu inspirator sekaligus guru saya. Semasa hidupnya beliau selalu menanamkan pada diri anak-anaknya untuk hidup dengan jujur dan syukur. Jujur dalam semua hal.

Membaca Sajak Palsu yang ditulis oleh Agus R Sarjono mengingatkan kembali pada petuah-petuah ibu mengenai bagaimana saya harus menjalani hidup khususnya sebagai seorang guru. Berikut saya cantumkan puisi tersebut.

Sajak Palsu

Karya Agus R. Sarjono

Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah
dengan sapaan palsu. Lalu merekapun belajar
sejarah palsu dari buku-buku palsu. Di  akhir sekolah
mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka
yang palsu. Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah
mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru
untuk menyerahkan amplop berisi perhatian
dan rasa hormat palsu. Sambil tersipu palsu
dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru
dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu
untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan
nilai-nilai palsu yang baru. Masa sekolah
demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir
sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu,
ahli pertanian palsu, insinyur palsu.
Sebagian menjadi guru, ilmuwan
atau seniman palsu. Dengan gairah tinggi
mereka  menghambur ke tengah pembangunan palsu
dengan ekonomi palsu sebagai panglima
palsu. Mereka saksikan
ramainya perniagaan palsu dengan ekspor
dan impor palsu yang mengirim dan mendatangkan
berbagai barang kelontong kualitas palsu.
Dan bank-bank palsu dengan giat menawarkan bonus
dan hadiah-hadiah palsu tapi diam-diam meminjam juga
pinjaman dengan ijin dan surat palsu kepada bank negeri
yang dijaga pejabat-pejabat palsu. Masyarakatpun berniaga
dengan uang palsu yang dijamin devisa palsu. Maka
uang-uang asing menggertak dengan kurs palsu
sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis
yang meruntuhkan pemerintahan palsu ke dalam
nasib buruk palsu. Lalu orang-orang palsu
meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan
gagasan-gagasan palsu di tengah seminar
dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya
demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring
dan palsu.

Semoga kita bukan termasuk guru ’palsu’.

Salam Semangat!

auw (puisi gempa)

Auw auw
Gusti kembali Kau sentil kami
Auw auw
7,6 skala richter ciutkan nyali kami
Auw auw
Kelu bibir kami
Innalillahi wa inna ilaihi roji’un
Ampuni kami

* Kami turut berduka atas bencana yang menimpa saudara-saudara di Padang dan Jambi, semoga diberi kesabaran dan kekuatan untuk bangkit kembali.

Puisi Pemilu (Artikel)

Pemilu 2009 disinyalir banyak kecurangan oleh berbagai pihak. Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang bermasalah, indikasi penggelembungan suara, politik uang, dan lain-lain.

Malam tadi, ketua KPU Abdul Hafidz Ansyari menetapkan sekaligus mensyahkan hasil pemilu legislatif. Boleh jadi karena ada indikasi kecurangan, penetapan hasil pemilu tidak terlalu menarik lagi bagi rakyat.

Di tahun 1998, Taufik Ismail menulis puisi berjudul Kotak Suara , yang bila dibaca lagi saat ini masih relevan. Taufik Ismail adalah penyair yang sangat peka dengan sejarah dan menjadikan puisi sebagai sebuah karya sastra yang mampu merekam peristiwa-peristiwa penting. Dalam puisinya Taufik Ismail berkata: Puisi menangisinya, mencatatnya / dengan huruf-huruf sedih, sesak nafas, geram dan naik darah (1990; Sejarum Peniti, Sepunggung Gunung)
Continue reading