Sekolah Sesungguhnya

Salam Semangat!

Sahabat guru,

Membaca judul di atas memang terasa agak ganjil. Memangnya ada sekolah yang bukan sesungguhnya? Kalimat tersebut merupakan renungan saya mengenai tanggal 29 Juni sebagai Hari Keluarga. Tidak banyak yang tahu bahwa tanggal tersebut dicanangkan pemerintah sebagai Hari Keluarga. Keluarga menurut saya adalah tempat cikal bakal tumbuh kembang anak dan memberikan banyak pengaruh pada perkembangannya. Jadi tidak salah kalau keluarga disebut sebagai sekolah sesungguhnya. Meskipun sekarang banyak sekolah yang menawarkan program full day atau boarding, sehingga waktu anak banyak dihabiskan di sekolah. Mengingat hal tersebut, alangkah kurang bijaksana apabila orang tua pasrah bongkokan (menyerahkan sepenuhnya) pada sekolah dan cenderung menyalahkan sekolah jika anak-anaknya tidak sesuai dengan harapan. Bagaimanapun tanggung jawab pendidikan anak-anak tetap melekat pada keluarga.

Selamat Hari Keluarga:)

Advertisements

Belajar dari Ibu dan Sajak Palsu

Salam semangat!

Sahabat guru,

Salah satu orang yang sangat berpengaruh dalam hidup saya adalah ibu (biasanya saya memanggilnya dengan sebutan umi). Beliau adalah salah satu inspirator sekaligus guru saya. Semasa hidupnya beliau selalu menanamkan pada diri anak-anaknya untuk hidup dengan jujur dan syukur. Jujur dalam semua hal.

Membaca Sajak Palsu yang ditulis oleh Agus R Sarjono mengingatkan kembali pada petuah-petuah ibu mengenai bagaimana saya harus menjalani hidup khususnya sebagai seorang guru. Berikut saya cantumkan puisi tersebut.

Sajak Palsu

Karya Agus R. Sarjono

Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah
dengan sapaan palsu. Lalu merekapun belajar
sejarah palsu dari buku-buku palsu. Di  akhir sekolah
mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka
yang palsu. Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah
mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru
untuk menyerahkan amplop berisi perhatian
dan rasa hormat palsu. Sambil tersipu palsu
dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru
dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu
untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan
nilai-nilai palsu yang baru. Masa sekolah
demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir
sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu,
ahli pertanian palsu, insinyur palsu.
Sebagian menjadi guru, ilmuwan
atau seniman palsu. Dengan gairah tinggi
mereka  menghambur ke tengah pembangunan palsu
dengan ekonomi palsu sebagai panglima
palsu. Mereka saksikan
ramainya perniagaan palsu dengan ekspor
dan impor palsu yang mengirim dan mendatangkan
berbagai barang kelontong kualitas palsu.
Dan bank-bank palsu dengan giat menawarkan bonus
dan hadiah-hadiah palsu tapi diam-diam meminjam juga
pinjaman dengan ijin dan surat palsu kepada bank negeri
yang dijaga pejabat-pejabat palsu. Masyarakatpun berniaga
dengan uang palsu yang dijamin devisa palsu. Maka
uang-uang asing menggertak dengan kurs palsu
sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis
yang meruntuhkan pemerintahan palsu ke dalam
nasib buruk palsu. Lalu orang-orang palsu
meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan
gagasan-gagasan palsu di tengah seminar
dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya
demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring
dan palsu.

Semoga kita bukan termasuk guru ’palsu’.

Salam Semangat!

Lima Dosa Besar Guru ( part 1) *

Salam Semangat!

Sahabat guru,

Profesi kita sebagai Guru dengan predikat yang melekat sebagai orang yang digugu lan ditiru, seharusnya  diimbangi dengan semangat terus belajar dan memperbaiki setiap kesalahan. Mengapa harus begitu? Karena guru juga manusia. Sebagai manusia, pastilah kita tidak  luput dari berbuat salah. Berikut adalah beberapa kesalahan (dosa) yang biasa dilakukan oleh guru.

  • Anti kritik

Sahabat guru, pernahkah Anda mendapat kritikan mengenai manajemen kelas, perfome mengajar, materi yang ketinggalan jaman, dll? Apa yang Anda lakukan? Segera berterima kasih dan berjanji akan memperbaiki kah? Atau Anda segera memberikan berbagai alasan dan berupaya membentengi diri dengan mengatakan,” Dari dulu juga begitu dan tidak ada masalah. Sudah bertahun-tahun saya jadi guru, jadi saya lebih tahu mana yang lebih baik.”

Sebagai seorang guru pun, kita pastilah memiliki kekurangan. Demi kemajuan anak didik dan pribadi guru sangatlah elok kalo kita mau terbuka terhadap kritik.

Sahabat guru, percayalah bahwa setiap kritik dan masukan akan berdampak luar biasa pada diri kita kalau kita mau menerima. Tidak perlu malu atau tersinggung pada orang–orang yang menyampaikan kritik, sekalipun kritik itu terlontar dari anak didik kita.

Sudah menjadi sunnatullah, sebagai manusia kita memiliki kelebihan dan kekurangan. Sebagai seorang hamba sudah menjadi kewajiban untuk mensyukuri setiap kelebihan yang Allah berikan, dengan mengoptimalkan kelebihan kita untuk kebaikan dan  kemanfaatan. Yang harus kita lakukan dengan kekurangan yang ada pada diri kita adalah dengan bersabar dan berusaha sekuat tenaga merubah kekurangan yang kita miliki menjadi sebuah potensi yang luar biasa. Hal tersebut sangat mungkin terjadi asalkan kita terbuka terhadap kritik. Jadikan kritik negatif menjadi masukan positif untuk kebaikan diri kita.

Semoga bermanfaat.

 

    *Insya Allah ada lanjutannya sampai lima tulisan terkait.