Guru Killer VS Murid Troublemaker (Artikel)

Kekerasan dalam dunia pendidikan yang sempat mencuat di media cetak maupun elektronik beberapa waktu lalu cukup memprihatinkan. Sosok guru yang seharusnya digugu dan ditiru, tertangkap kamera HP sedang memukul siswa dan beberapa tindak kekerasan yang lain. Tak kalah menghebohkan, video adu jotos antar siswa pun banyak beredar.

Ada hal yang cukup disayangkan, karena beredar melalui HP, masayarakat tidak tahu motif yang melatarbelakangi tindak kekerasan tersebut. Pemberitaan di media cetak maupun elektronik pun kurang mendalam mengupasnya. Mengetahui motif ini sangat penting, untuk mengetahui akar permasalahan agar tidak ada lagi kasus-kasus yang sama, yang akan mencoreng dunia pendidikan kita.

Dahulu mendisiplinkan anak dengan pemukul dari rotan kerap dilakukan  oleh para orang tua dan guru mengaji. Tapi hal itu tidak mengurangi wibawa dan rasa hormat anak terhadap orang tua dan guru. Di masa kini, sebutan killer dilekatkan para siswa pada guru yang dianggap terlalu keras dalam penegakan disiplin. Killer yang secara harfiah adalah pembunuh, melekat erat pada sosok guru yang keras (baca: galak) dalam mendidik murid, tidak ada kompromi dalam hal penegakan disiplin saat poses KBM berlangsung. Seperti tidak mau kalah, guru pun melekatkan gelar si troublemaker untuk siswa-siswi yang berulah, biang onar dan lain-lain.

Ada hal penting yang patut dicermati oleh guru bahwa apapun alasannya, segala bentuk kekerasan tidak dapat dibenarkan. Apalagi kekerasan pada anak didik. Alih-alih ingin mendisiplinkan siswa, jadi tersandung UU RI no 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. UU ini menjamin dan melindungi hak anak termasuk melindungi anak dari tindak kekerasan.

Tips Menyandang Gelar Guru Killer

Berikut ini saran untuk guru yang mendapat gelar killer. Bapak ibu cobalah menanggapinya dengan santai. Tidak usah ditanggapi secara berlebihan. Possitive thinking, anggap saja gelar itu diberikan karena anda adalah guru yang punya dedikasi tinggi, penuh disiplin dalam mendidik siswa. Walaupun begitu introspeksi diri jauh lebih baik daripada marah-marah. Introspeksi terhadap cara mengajar. Introspeksi terhadap cara menanggapi atau merespon siswa yang bermasalah.

Tips Menghadapi Si Troublemaker

  • Buang jauh-jauh cap troublemaker

Pemberian label pada anak bisa sangat berbahaya. Karena anak cenderung mengikuti atau meyakini label yang diberikan orang lain pada dirinya.

  • Tepat dalam merespon

Cari tahu motif siswa melakukan “kenakalan/kesalahan”. Dengan mengetahuinya, kita dapat merespon dengan tepat. Tidak langsung terbawa emosi.

  • Proporsional dalam memberikan punishment

Satu hal yang sering terlupakan, kita getol memberikan punishment saat anak didik melakukan kesalahan, tapi lupa memberikan reward saat siswa melakukan prestasi. Walaupun cuma prestasi kecil patut kita hargai.

  • Hindari hukuman fisik

Sebisa mungkin hindari memberikan hukuman fisik, seperti; memukul,menendang, dan lain-lain. Karena hal itu melanggar UU perlindungan anak. Lebih berbahaya lagi kalau hukuman  fisik tersebut lebih membekas dalam ingatan daripada nasihat-nasihat atau didikan kita.

  • Jadikan tantangan

Jadikan si troublemaker sebagai tantangan untuk kita. Tantangan bagi guru untuk menjadikan dia lebih baik. Si troublemaker adalah siswa yang butuh bantuan kita. Bantu ia menjadi lebih baik.

Sebagai seorang guru yang profesional agaknya harus memiliki kesabaran yang lebih. Tidak terkecuali sabar dalam menghadapi kenakalan siswa dan sabar dengan gelar killer yang disandang. Meskipun demikian dapat dimaklumi jika ada saat tertentu seorang guru hilang kesabaran sehingga marah atau emosi menghadapi siswa yang berulah. Guru juga manusia. Punya rasa, punya hati. Wallahu a’lam bis showab.

4 thoughts on “Guru Killer VS Murid Troublemaker (Artikel)

  1. saya punya anak didik yang malas berpikir apakah faktor keletihan dalam belajar karena program pendidikan kami mengacu pada konsep full day school.mohon solusi?

    • Ada banyak faktor bu yang mempengaruhinya, kita perlu data lebih untuk mengetahui faktor apa yang menyebabkan anak didik malas berfikir, agar dapat mencari solusi yang tepat. Motivas yang kurang, lingkungan, pola asuh, tipe belajar anak, masalah adaptasi untuk anak kelas rendah, bisa jadi faktornya. Full day school tetap bisa menjadi tempat belajar yang menyenangkan. Saya berbaik sangka, anak didik ibu bukan malas berfikir, cuma butuh motivasi lebih. Terima kasih, pertanyaan ibu menginspirasi saya untuk menulis mengenai hal tersebut.

  2. labelling ….
    ya itulah Guru yang “sombong”
    memang sangat sulit mencari guru yang “paripurna”
    jadi …
    g heran kalau hasil didikannya kaya gini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s