Mang Udin Rindu Sekolah (Cerita Anak)

Matahari baru sepenggalah naik, saat Mang Udin memarkir sepedanya di halaman SD Tunas Harapan. Sepedanya sarat dengan mainan. Menjual mainan telah dijalani Mang Udin selama 11 tahun. Dari berjualan mainan itulah Mang Udin mampu menghidupi keluarga dan menyekolahkan 2 anaknya.

“Mang, ada kartu Pokemon seri terbaru?” Tanya Imam.

“Ada nggak Mang?” Kembali Imam bertanya.

“Mang, saya beli pistol airnya. Harganya berapa?” Kali ini Haris yang bertanya.

“Berapa Mang?”

“Mang!”

Mang Udin tidak menyahut. Matanya menerawang.

“Mang Udin!” Serempak Imam dan Haris memanggil. Mang Udin terperanjat. Kaget.

“Aduh Mang Udin kaget. Ada apa ya?” Tanya Mang Udin dengan ekspresi yang lucu.

“Mang Udin melamun ya?” kata Haris menebak.

“Iya, Mang Udin melamun. Sampai tidak mendengar kami. Kami mau beli, Mang.” Sahut Imam geregetan.

“Maaf anak-anak. Mang udin sedang mengenang masa-masa sekolah dulu. Masa yang menyenangkan dalam hidup Mang Udin. Bahagia, indah ….” Mata Mang Udin merem melek keasyikan.

“Apa yang menyenangkan Mang?”

“Banyak. Banyak sekali. Saat mengerjakan PR bersama teman-teman, saat belajar kosa kata baru. Saat, saat…. Pokoknya banyak hal-hal yang menyenangkan saat sekolah.” Jelas Mang Udin.

“Sekolah kan capek Mang. Banyak PR, banyak tugas. Apalagi waktu ujian, duh pusiiiing!” Keluh Imam.

“Iya benar, pusing. Nggak ada enaknya tuh.” Haris menambahi.

“Itu karena kalian kurang ikhlas dalam menjalaninya. Coba kalau kalian ikhlas pasti menyenangnya. Kalau kalian sudah dewasa, pasti kalian akan rindu masa-masa sekolah. Seperti Mang Udin saat ini. Rindu sekali. Serasa ingin kembali sekolah.” Mang Udin menjelaskan. Imam dan Haris manggut-manggut.

“Maaf kalau boleh kami tahu. Mang Udin sekolah sampai tingkat apa ya?” Tanya Haris hati-hati.

“Cuma sampai kelas 4 SD. Tidak ada biaya. Makanya kalian harus bersyukur, orang tua kalian mampu menyekolahkan kalian. Sehingga kalian bisa meraih cita-cita yang kalian inginkan.Nasibnya tidak seperti Mang Udin ini.”

“Memangnya Mang Udin dulu punya cita-cita apa?” Tanya Imam penasaran.

“Jadi guru. Coba kalau Mang Udin bisa sekolah terus, pasti sudah jadi Pak Guru Udin, bukan Mang Udin si penjual mainan.” Ujar Mang Udin terkekeh.

Seketika obrolan mereka terhenti tatkala terdengar bel tanda masuk jam pelajaran selanjutnya. Imam dan Haris berpamitan pada Mang Udin.

One thought on “Mang Udin Rindu Sekolah (Cerita Anak)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s